Sunday, August 27, 2006

Membangun Masyarakat Bengkulu

PROFILE
RAFFLESIA SOCIETY FOUNDATION (RSF)
YAYASAN MASYARAKAT RAFFLESIA
BENGKULU DI JAKARTA
Alamat: Jl. Arabika III Blok Z-2/5 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460
Telp: 08161963543 email: syaf004@lipi.go.id, ferdy_boyz@yahoo.com

I. Pengantar Sekapur Sirih

RSF atau Rafflesia Society Foundation atau Yayasan Masyarakat Rafflesia Bengkulu didirikan dan dibentuk atas dasar ‘keinganan maju bersama’ di antara beberapa anak negeri di tingkat akar-rumput di ibu kota negara Jakarta dan sekitarnya. Dengan ‘niat tulus ikhlas karena Allah’ dan rencana ‘kerja baik’ dari para calon pendirinya, para dewan pengarah ‘induk semang’ yang dituakan dan dari kalangan multi-pihak elemen civil society yang terkait, yang pernah tinggal, bekerja dan bersekolah di sana untuk ber-sinergi dan ber-kolaborasi dengan visi meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Bengkulu khususnya, serta memajukan Bangsa Indonesia dan menaikan peradaban dan kemakmuran Warga Dunia umumnya.

Kami berencana menjalin kemitraan dengan sejumlah organisasi, baik pemerintah, swasta maupun individu masyarakat di dalam dan luar negeri, dalam merancang berbagai program yang dipikirkan bisa sesuai dengan kebutuhan aktual masyarakat Bengkulu, konteks ke-Indonesia-an dan transisi global warga dunia yang mengarah ke open society, masyarakat multikultural, kampung dunia untuk semua. Kami berupaya merancangnnya untuk mampu bertahan, berfikiran positif, kondusif dalam perubahan, produktif dalam hasil serta konstruktif dalam kerja untuk jangka waktu yang lama, sedang dan pendek.

Fokus yayasan ini adalah perancangan model pembangunan, pariwisata dan perdagangan komprehensif kawasan segitiga Bengkulu-Singapura dan Inggris. Membuat jaringan kerja, melakukan workshop, pelatihan dan pemberdayaan lewat program-program yang dirancang berdasarkan prinsip-prinsip saling menghormati, kesukarelaan, kemitraan aktif, kepercayaan dan komiten jangka panjang.

Bersamaan dengan kondisi Indonesia yang sedang berupaya secara insentif menuju otonomi daerah yang sehat dan juga perubahan dunia yang borderless nation, RSF akan melakukan fokus pada rekonstruksi dan emansipasi bidang pendidikan, kepariwisataan dan perdagangan, tata pemerintahan daerah (local good governance) dan pembangunan kapasistas masyarakat warga.

II. Sekilas Sisi Tumbuh RSF

Di tahun 1980-an sampai 1990-an ada sekumpulan mahasiswa dan pemuda-pemudi yang berasal, menaruh perhatian dan pernah tinggal di Bumi Rafflesia Bengkulu, yang sedang menuntut ilmu di Universitas Indonesia, Universitas Guna Darma, Universitas Tri Sakti, juga Alumni Universitas Negeri Bengkulu (Unib) dan alumni SMA (Sekolah Menangah Atas) se-Bengkulu di “Jadeptabekgor” (Jakarta, Depok, Tanggerang, Bekasi, Bogor).

Mereka bertemu di Balsem kampus dan Mesjid UI, di rumah kost seputar Depok, di Anjungan Rumah Adat Bengkulu di TMII, di beberapa food-court Mal/Super-market di Jakarta dan bersepakat untuk membentuk Ikatan Mahasiswa Rafflesia (IMARA) dan menjadi bagian (cross cutting affiliation) dari Ikatan Masyarakat Rafflesia, Ikatan Masyarakat Jang Pat Petulai dan Kekerabatan se-Sumatera Bagian Selatan di ibukota negara, Jakarta.

Khusus organisasi IMARA, mereka pernah mengadakan sosialiasi Perguruan Tinggi Negeri di beberapa SMU di Bengkulu tempat asal mereka dahulu belajar, juga acara ‘Pulang Bersama’ di saat Lebaran/Idul Fitri, halal-bi halal, acara rujakan dan menghadiri resepsi pernikahan salah seorang anggota.

Selain itu Alumni SMUN 1 Curup, SMUN 5 dan SMUN 2 Bengkulu, dan yang lain, masing-masing kerap berkumpul mengadakan reuni dan ada juga yang mengadakan arisan, agar saat itu masing-masing ada alasan untuk datang berkumpul. Selain bernostalgia ada juga terekam niat ikhlas untuk memajukan kampung halaman, masayarakat Bengkulu, bangsa Indonesia dan kalau mungkin warga dunia umumnya. Kalau suatu kaum tidak merubah nasibnya, siapa lagi yang akan melakukan perubahan untuk kaum itu?.

Di awal tahun 2003, datang lah seorang Alumni UNIB (Universitas Negeri Bengkulu), saudara Donny Leo Agustian, SE dari Fakultas Ekonomi, yang bekerja di Departemen Perdagangan dan Industri, Jakarta, ke salah satu seminar di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dan bertemu dengan seorang peneliti Puslit Politik dan Kewilayahan (PPW) LIPI, Syafuan Rozi Soebhan, SIP, M.Si. Dari sekedar berbincang ringan, lalu ada keinginan serius untuk membuat perubahan besar bagi Bengkulu.

Sejak saaat itu Badan Promosi Pariwisata, Investasi dan Perdagangan Untuk Bengkulu (Bengkulu Tourism, Investation and Trading Board). Proposal disusun, struktur sementara dibentuk dengan menghubungi beberapa orang potensial dan kemudian sdr. Donny bertindak sebagai ‘public relation’, pulang balik Jakarta-Bengkulu untuk bertemu dengan pihak Pemda dan DPRD Bengkulu.

Selanjutnya pada pertengahan tahun 2003 antara bulan April-Mei, atas rekomendasi saudara Hendri Kuswari, SIP, datang lagi seorang pemuda asal Bengkulu, alumni Teknik Industri UII, saudara Makmun Jauhari Putra, ST (Arie) yang bekerja di Amro Bank ke LIPI. Ibarat gayung bersambut dan laksana memperoleh energi tambahan, kami bersepakat bertemu secara reguler, antara lain di LIPI dan Mushala Grande lt. 4 Pasar Raya Blok M Jakarta. Saat itu hadir juga Defri Afriandi, ST untuk merancang visi, misi, program kerja dan profil RSF. Selanjutnya pada tanggal 31 Mei 2003, saudara Rozi, Donny, dan Arie pk. 11. kami bersepakat bertemu di mushala Pasar Raya Grande lt. 4 untuk membuat organiasi ini dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait dan menaruh kepedulian untuk memajukan Bumi Bengkulu, bangsa Indonesia dan Warga Dunia umumnya.

III. Nilai-nilai (Common Platform, Vision, Insight & Values)

Adapun nilai-nilai yang menjadi dasar berdirinya organisasi ini antara lain:
q Persaudaraan Umat Manusia (Ukhuwah Basariah/Family of Humankind, Multiculturalism, Earth Nationalism, Think Golbaly Act Localy).
q Maju Bersama dalam Kesetaraan (Progeresive in Harmonio: Equality, Egaliterianism, Emansipation, Net-working and Fraternity).
q Keterbukaan dan Pergiliran Alokasi/Posisi secara teratur. (Democtratization: Sidiq/Amanah/Open-management, Public accountablity, Transparance, Fair alocation-distribution, Regular sirculation of leaderships).
q Kesukarelaan (Volunteerism, Self-determination, Ascetism Spirit).
q Kecerdasan Rasional, Emosional & Spiritual (Fatonah/Critical Thinking, Emotional & Spiritual Intelegence Paradigm).
q Mengejar dan mendukung Inovasi dan Kreativitas.

Hal itu terinspirasi dari alam dan masyarakat yang terkembang menjadi guru, yang dalam bahasa orang kito Tuo-tuo Bengkulu telah dikenal dalam ungkapan kearifan lokal (local widom), kata-kata dan pesan mereka ketika kami mau berangkat ke Jakarta:

“....Anak ku sayang si biran tulang...kelak jika kau ado di Perantauan, Induk semang cari lah dulu, kemudian carilah kawan-kawan akrab yang bisa dipercayo. Bedakan mano yang baik dan mano yang buruk. Sekecek...sekato lah cari mufakat terbaik. Duduk lah Samo Rendah, Tegak la Samo Tinggi. Lokak dan Gawe jadikan Urusan Besamo. Jadilah awak tu orang yang Tebukak pikirannyo. Idak Ado Gunting Dalam Lipatan. Banyak bejalan, banyak yang diliek. Begabung lah kek kawan sejalan itu kareno kendak dewek, hati-hati dan Idak karno Tepakso. Merantaulah, tapi ingek-ingek...Majukan Negeri kito. Siapo lagi majukannyo kalau idak kau yang akan belajar dari majunyo negeri lain. Pakailah selalu Akal cerdik, Iman dan Taqwa.Jujurlah kareno itu mata uang di mano-mano. Ketemu Tebing Biduk di Kelok, Lempar Tongkat Jadi Tanaman. Pulang tengok kampung dan margo bangunkan Negeri kota Bengkulu, Utara dan Selatan: Rejang Pat Petulai, Serawai, Lembak, Semendo, Enggano...“.

IV.Dewan Pengarah (Steering Commitee)
Kami mengusulkan dan mengharapkan beberapa nama antara lain:
1. Lukman Hakim, Ph.D (Wakil Ketua LIPI).
2. Drs. Lukman Hakim (Akuntan).
3. DR. Zayadi Hosen (Ginekolog).
4. Drs. Wahidun Nurdin Djangjaja (Mantan Bupati RL).
5. Kol (purn.) Iskandar Maramis (Mantan Wagub Bkl).

V. Pengurus Harian (Organizing Commitee)
1. Syafuan Rozi Soebhan, SIP, M.Si (Peneliti P2P LIPI).
2. Donny Leo Agustian, SE (Litbang Deperindag).
3. Makmun Jauhari Putra, ST (karyawan Amro Bank).
4. Ir.Andreas WN Djangdjaja, M.Sc (Pengusaha).
5. Ir. Hega Zayadi Hosen (Profesional).

VI. Anggota (Associates):
1. Hendri Kuswari, SIP (Pelaku Bursa/Sekuritas).
2. Defri Afriandi, ST (Profesional).
3. Sherley (Mhs. Jurusan HI FISIP UI).
4. Monika ZH (Mhs. FKG Usakti).
5. MSP Waluyo, SE (Profesional muda).
6. Essy Destiana (Praktisi Asuransi).
7. Linda Murni (Profesional Muda).
8. Amrizal, SE (Depkeu).

VI. Rencana Kerja
1. Membuat Website RSF & Triple City Patent/property rights untuk konsep promosi Bengkulu berbasis ekonomi dan pariwisata keluarga untuk London-Singapore-Bencooleen.
2. Mengadakan Pelatihan Kewirausahaan untuk Masyarakat Bengkulu.
3. Sosialisasi dan sharing informasi alternatif Pendidikan Tinggi untuk siswa SLTA di Profinsi Bengkulu.
4. Mengusahakan/mengorganisir Pelatihan Bahasa Asing dan Bahasa Daerah untuk warga Bengkulu yang berminat.
5. Mengusahakan informasi, jalan dan pengumpulan ‘Dana Abadi’ untuk Scholarship/beasiswa/SDM putra-putri terbaik Bengkulu.
6. Mengusahakan Clean and Good Corporate Governance dan tumbuhnya Civil Society dan Masyarakat Multikultural (Al Madani Rahmatan Lil Alamin.As Salam Qoryati min Fadhli Rabbi, Baldatun Thoyibatun Warabun Ghaffur) di Provinsi Bengkulu.
7. Membuat Bengkulu Trade and Tourism Board (BT2B) dalam kerangka Triple City (Kota Segitiga London-Singapura-Bengkulu).
8. Mengusahakan Pengembangan Ekonomi Berbasis Keluarga dengan merancang pasar domestik lewat Festival, Karnaval, Hari-hari Bertema Sepanjang Tahun.
9. Mengusahakan “Pendidikan Untuk Semua” bagi Masyarakat Bengkulu lewat mekanisme pajak progresif, dll.
10. Mengusahakan “Asuransi Kesehatan Untuk Semua” bagi Masyarakat Bengkulu lewat mekanisme pajak progresif, dll.
11. Mengusahakan “Perumahan Untuk Semua” bagi Masayarakat Bengkulu lewat mekanisme pajak progresif, dll.
12. Mengusahakan “Berhaji Dengan Kapal Laut Aman”, Terjangkau dan Nyaman dari Pulau Baai ke Pelabuhan terdekat dengan Tanah Suci.

Property-rights and patent by: Syafuan Rozi, P2P LIPI Jakarta
Model Pembangunan Daerah dan Kawasan
World triple-Cities (Kota Segitiga Dunia):
Sebagai Model Pemberdayaan Ekonomi Keluarga di Provinsi Bengkulu
Email: syafuan.rozi@lipi.go.id

Latar Belakang

Futurolog terkenal John Nissbitt dalam bukunya tentang Megatrend 2000 telah meramalkan akan terjadi revolusi Triple-T yaitu perubahan cepat di bidang Transportation, Telecomuniaction and Tourism setelah milenium ke-2. Hal ini patut disambut baik dan dijakdikan peluang untuk mengembangkan wilayah dan perekonomian berbasis keluarga, khususnya pengembangan bisnis wisata budaya, kerajinan dan pemberdayaan ekonomi keluarga. Daerah Bengkulu sengaja dipilih karena daerah ini jarang sekali mendapatkan perhatian walaupun relatif dekat dari Jakarta sebagai pusat ibu kota negara. Daerah ini kaya akan potensi alam seperti bahan tambang dan mineral, pegunungan (hutan, ladang kopi, jahe, kelapa dan kebun teh), pantai dan beberapa pulau kecil (Pulau Tikus dan Enggano).

Selain itu, adanya festival tahunan berupa perayaan Tabot baru hanya dirayakan berdasarkan kegiatan ritual adat 10 Muharam –wafatnya cucu nabi Muahammad SAW. Ia belum dimanfaatkan untuk memutar roda ekonomi setempat. Ada asumsi festival rakyat adalah pasar yang bagus untuk produk-produk kerajinan dan hasil perkebunan. Dimana ada keramaian, disitu akan laku barang dan jasa bila digelar. Ada gula ada semut. Ada festival berkala, ada wisatawan berkala, tumbuh pula ekonomi setiap keluarga yang dilibatkan.

Sejak lama ada pengrajin kain Besurek di Bengkulu, tapi tidak banyak dibeli orang karena sedikit sekali orang yang mau berkunjung ke daerah tersebut. Kalupun ada yang datang hanya beberapa hari dan menginap di hotel milik pengusaha besar dari Jakarta. Penduduk setempat tidak banyak yang mendapat kesempatan memperoleh penghasilan langsung dari wisatawan. Konsep home-stay adalah alternatif bagi wisatawan asing dan domestik untuk tinggal di tengah keluarga, sambil belajar bahasa daerah, kearifan lokal dan makanan setempat. Hal ini diharapkan akan menyenangkan bagi wisatawan manca negara, khususnya pelajar asing dan para ilmuan sosial humaniora, selain itu program ini akan menambah pemasukan langsung bagi setiap keluarga yang terlibat.

Persiapan Indonesia untuk bangkit dari krisis, termasuk daerah Bengkulu, menuju perekonomian pasar bebas AFTA dan revolusi T3, perlu dimanfaatkan oleh anak bangsa dan menjadi beralasan pula Kota Bengkulu berpeluang untuk ikut dibangun. Jumlah dan kualitas fasilitas kota (public goods) di wilayah Bengkulu masih jauh dari harapan. Bandara Fatmawati yang dulunya bernama Padang Kemiling, perlu diarahkan menjadi bandara internasional, Pelabuhan Pulai Baai hendaknya dimanfaatkan untuk merapatnya kapal wisata (sea cruise) internasional, sekaligus suatu saat nanti bisa kembali menjadi jalur alternatif pelayaran berhaji melalui pantai Barat Sumatera menuju Arab Saudi dan peluang wisata pula dari kalangan bangsa Arab.

Selama ini, kehadiran wisatawan hanya dimiliki oleh pengelola hotel dari kalangan investor menangah dan besar. Sudah saatnya lewat konsep triple-cities juga melibatkan keluarga setempat untuk turut menawarkan jasar tempat tinggal dengan menyediakan home stay bagi wisatawan, adanya zone usaha kerajinan rakyat, zone rekreasi festival rakyat berkala, zone gudang dan bongkar muat di pelabuhan laut, wisata air di Pantai Panjang, Pulau Tikus dan Enggano, sanitasi kota bidang persampahan, drainase, jaringan distribusi pemasaran wisata, hingga sistem komunikasi modern (internet, jaringan nir-kabel) akan menjadi daya pikat dan prasyarat infrastruktur untuk bangkitnya daerah Bengkulu, menjadi Bali ‘baru’ bagi Indonesia.

Tujuan dan Sasaran

Model Triple Cities London-Singapura-Bengkulu ini bertujuan untuk membangun kembali rajutan masa lalu untuk kepentingan kekinian dan masa depan untuk mulai menjaring potensi, inisiatif, ekspresi kebutuhan dan usulan solusi permasalahan dari bawah. Apabila proses membangun kolaborasi negara dan masyarakat di kota segitiga tersebut dilakukan dengan sinergis tentu pada akhirnya suatu cita-cita pengembangan pariwisata, investasi dan perdagangan di tiga wialayah tersebut akan bisa memenuhi tujuan bersama: memajukan ekonomi berbasis keluarga.

Sasaran pengembangan wilayah antar kawasan, adalah hal yang semakin mendesak guna percepatan kemajuan ekonomi setiap keluarga di daerah, khususnya Bengkulu, dalam rangka pengembangan daya saing daerah untuk lebih maju. Kata kuncinya adalah penerapan konsep dan membangun maju bersama ekonomi keluarga daerah Bengkulu, yang dimulai dari daerah awal pengembangan.

a.Tujuan

Program ini bertujuan untuk mengembangkan pemasaran dan penciptaan lapangan kerja baru lewat usaha wisata berskala global di daerah dengan fokus home-industry berupa kerajinan kain adat/batik besurek dan pengembangan produk bengkel kata-kata untuk produk aneka garment (kaos, kemeja, tas, topi, dompet, gantungan kunci, dll.). Untuk menunjang hubungan kota-segitiga perlu dibuat pasar seni dan kerajinan di setiap kabupaten di Bengkulu. Perlu didatangkan oleh maysarakat adat, gubernur dan bupati yaitu para seniman, pengrajin, juru masak dari luar negeri (Inggris dan Singapura) untuk menjadi guru yang menularkan ketrampilan bagi warga Bengkulu. Para guru ini difasilitasi oleh induk semang orang Bengkulu di rantau dan di kampung.

b.Sasaran:

Untuk meningkatkan pendapatan setiap keluarga di lokasi kegiatan dengan mendatangkan para pelancong maka diadakan festival rakyat secara berkala, terutama menyesuaikan waktu dengan liburan di Eropah. Sebagai tempat penginapan, maka dikembangkan home-stay sebagai icon utama untuk tempat menginap bagi para turis. Pemasukan home-stay ini diharapkan bisa langsung meningkatkan income perekonomian setiap keluarga secara langsung.

Metode Kegiatan
Eksplorasi Historiografi (desk-review kehidupan dan perjalanan Sir Stamford Raffles dari London ke Bengkulu dan Singapura).

Model triple-cities atau kota segitiga hal ini terkait dengan sejarah masa lampau menyangkut Bengkulu-Singapura dan London. Singapura sekarang adalah Singapura yang maju, sebagai salah satu negara dengan income tertinggi di dunia. Kota itu dahulu ada kaitannya dengan Bengkulu, karena negara kota (city state) di Ujung Semanjung Malaka itu juga awalnya dibangun oleh Sir Stamford Raffles, gubernur jenderal Inggris. Orang yang sama ini, juga pernah menetap di Bengkulu, sehingga daerah ini kerap disebut Bumi Rafflesia. Hutan Bukit Barisan Bumi Bengkulu terkenal dengan habitat bunga raksasa yang terbesar di dunia. Selain itu bila kita ingat nama Raffles asal Inggris yang beribukota London ini, selain koleksi botani-nya, kita juga akan mengingat peradaban Inggris di Bengkulu, yaitu suatu benteng berbentuk hewan penyu yang mengarah ke Tapak Padri di pelabuhan tua Bengkulu yang bernama Malborough Fortres, dengan salah satu ruangannya yang pernah dihuni oleh presiden pertama RI, Bung Karno.

Sejarah mengungkap traktat London, yang berisi pertukaran wilayah antara Bengkulu dan Singapura antara Belanda dan Inggiris. Sekarang, bila kita melihat Singapura yang telah didekontruksi ulang oleh Lee Kwan Yew sebagai ‘Singapore Incorporated’, kota yang dikendalikan layaknya sebuah perusahaan. Kota yang masyarakatnya berpenghasilan tinggi dan tingkat pengangguran yang relatif rendah. Bidang-bidang pelayanan publik dimiliki oleh pemerintah tapi dikelola secara komersial dan sosial oleh warga dengan prinsip “Maju Bersama Singapura”. Ada taman safari malam hari dan yang terpenting lagi ada jalan raya, mesjid, hotel, publicresidence yang bernama “Bencoelen”, di sekitar jalan Victoria-Beras Basah di kota Singapura, yang diambil dari kata Benkulen atau Bengkulu. Mengingatkan kita, kan adanya ikatan sejarah dan fakta sosial hubungan masa lalu Inggris, Singapura dan Bengkulu. Suatu kebetulan yang sayang untuk dibiarkan berlalu begitu saja.

1) Membangun Jaringan dan Infrastruktur Kota Segitiga

Model ini menyarankan sinergi pelaku wisata dan birokrasi terkait di London Inggris, Bengkulu dan Singapura untuk membuat paket terusan perjalanan wisata yang didukung oleh perusahaan penerbangan seperti Air Asia, British Air Ways, Singapore Airline dan kapal pesiar antar benua. Pemda Bengkulu perlu didukung untuk mempersiapkan bandara internasional, pelabuhan dan jalan raya yang memadai.

Setelah mengkaji beberapa tempat maka diusulkan proyek percontohan bisa dilakukan di seputar benteng Inggris Duke Malborough-Tapak Paderi dan Keluruhan Talang Benih di Rejang Lebong yang memiliki potensi keindahan alam laut dan pegunungan, dengan membuat rumah contoh untuk home-stay bagi para wisatawan –khususnya wisatawan pendidikan dan sejarah dari manca-negara. Rumah home-stay ini dapat dibangun dengan memanfaatkan kayu kelapa, kayu kopi, bambu, tali ijuk, atap daun keladi raksasa, yang banyak terdapat di daerah tersebut. Selain itu perlu disiapkan para guru/seniman untuk membuat pasar seni, pusat jajanan, pabrik kata-kata untuk t-shirt, tas, dll.

Unit Kerja Terkait
-Pusat Penelitian Politik LIPI Jakarta
- Kementerian Budaya dan Pariwisata RI
-Bappeda Profinsi Bengkulu dan Kab. Rejang Lebong.
-Faculty of Arts & Social Science, National University of Singapore.
- Oxford University, London School of Economic and Social Science.
- UK and Singapore Emmbassy, travell bureau, NGOs Community development, enterpreunner society di ketiga negara

Renungan Di Hari Kemerdekaan
Sumber: http://www.politik.lipi.go.id/
Friday, 25 Aug 2006 02:22:01
Setiap kali kita berumur panjang, ada kesempatan menarik nafas di udara bulan Agustus. Kemudian kalau tergetar mau melihat dan merasakan denyut kehidupan di sekitar kita di nusantara, akan muncul tanya dan harap: benarkah kita sudah merdeka? Jawabannya, bisa ya bisa juga tidak. Jawaban ya, kalau argumentasinya kita sudah tidak dijajah lagi secara militer oleh kolonial asing Belanda atau Jepang seperti ‘tempoe doleoe’. Jawaban bisa tidak, kalau alasannya: masih banyak rakyatku di lapis menengah ke bawah yang masih tertekan oleh penggusuran tempat berusaha tanpa solusi, biaya pendidikan yang mahal belum tuntas berpihak kepada ‘orang kecil’, sekolah yang hampir roboh, ongkos berobat melambung, kavling rumah yang semakin sempit dan tak terjangkau, jalanan ibukota yang macet total dan bikin stress warganya, kekhawatiran terjangkit demam berdarah dan flu burung, busung lapar, anak-anak terlantar dan manula di jalanan, kejahatan hipnotis di bus umum dan di jalanan, berbondong-bondongnya TKI-ku ke luar negeri. Bangsaku kini masih ter-diaspora menjadi Kuli di negeri asing.


Merdeka atau belum merdeka?

Masih ada suara lirih dan perasaan yang berteriak sedih, kita “merdeka tapi belum merdeka!”. Benar setiap 17-an ada upacara kenegaraan karena negara ini secara historis sudah memproklamasikan diri. Tapi sesungguhnya kita belum lepas dari tekanan bangsa lain dalam menentukan sendiri harga minyak nasionalnya dan pengelolaan tambang emas yang diakui sebagai hanya tembaga. Kedaulatan RI sebagai sebuah bangsa, terutama di bidang sosial ekonomi pengelolan bumi, air dan kekayan alam yang terkandung di dalamnya. Selain itu, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, soal hak ulayat dan pembangunan komunitas, hutan sosial kemasyarakatan, hak masyarakat memperoleh informasi publik, peringatan dini bencana dan jaminan mendapatkan pekerjaan yang layak lagi memakmurkan menurut ukuran kemanusiaan.

Asvi Warman Adam, sejarawan P2P LIPI dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu melihat masih adanya bentuk penjajahan dalam dimensi ekonomi politik internasional. Bahwa bangsa kita masih mengalami bentuk penjajahan baru. Bentuk penjajahan atau pendiktean itu dilakukan oleh Komprador (orang lokal yang bekerja untuk kepentingan modal asing). Negeri ini (terutama daerah) dalam era ‘era otonomi daerah’ masih tidak berdaulat dan tidak berhak atas kekayaan alamnya sendiri. Aturan mainnya masih ‘zero sum game’, tidak mendapatkan sama sekali kecuali ‘remah-remahnya’.

Pemda Bojonegoro atau Cepu, misalnya cuma bisa gigit jari, untuk sama sekali tidak mendapat satupun blok minyak untuk dikelola dengan modal rupiah, tenaga arsitektur dan Gas Petrokimia dari universitas domestik dan menggunakan produk logam dalam negeri untuk instalasi pengeboran dan penyulingan. Perusahaan-perusahaan internasional dengan aliran modal yang besar leluasa mengeruk sumber daya alam Indonesia dengan perlindungan kontrak karya yang bisa dijelaskan lewat teori dependencia. Teori ketergantungan yang membuat bangsa kita tidak bisa merdeka dan menjadi pengelola di negeri sendiri untuk kemakmuran rakyatnya. Mari kita bercermin dari Brunai Darussalam dan Venuzuela yang merdeka menetapkan harga minyak murah untuk bangsanya.

Ironisnya lagi, masih menurut Asvi, sementara negara ini memperlakukan para pemilik modal asing bagai raja, sebaliknya nasib veteran 45 yang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan justru masih diabaikan. Para anggota Veteran 45 yang cacat hanya mendapat tunjangan hidup tiap bulannya sebesar Rp 22 ribu per anggota badan yang cacat. Kalau tangannya buntung atau hilang akibat perang, maka tunjangganya Rp 22 ribu. Kalau tangannya buntung dan kakinya hilang ya dapat Rp 44 ribu. Idiom bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya baru sebatas jargon dan pemanis bibir saja. Jangan tanya nasib pahlawan tanpa tanda jasa seperti para guru yang mengajarkan membaca dan ilmu.


Solusi Bertahan dan Visioner

Negeri kita diusia kemerdekaannya yang ke-61 relatif sudah maju dalam pengembangan hak politik, sosial dan budayanya. Hanya saja, hak ekonomi dan kemakmuran yang tertinggal dan perlu kita bangun mulai hari ini. LSM, Ormas dan Partai politik dapat berkembang tanpa ada intimidasi negara, pers tidak lagi dikekang SIUPP, kebebasan berserikat dan berpendapat lebih terjamin untuk disampaikan di depan publik, dan partisipasi aktif masyarakat dalam dunia politik terakomodasi dalam sistem pemilihan presiden langsung dan Pilkada. Etnis Tionghoa Nusantara pun leluasa mengadakan imlek, pertunjukan Barongsai, memiliki surat kabar dan bisa mendengarkan berita berbahasa Mandarin dari Metro TV.

Pemenuhan hak ekonomi dan kemakmuran memerlukan logika “membagi kue besar untuk jumlah penduduk yang normal”. Singapura, Brunai Darussalam dan Swiss sebagai negara kota relatif lebih mudah mengelolanya. Program pengendalian jumlah penduduk Indonesia harus menjadi perioritas utama setiap presiden yang terpilih. Agar generasi Indonesia mendatang bisa menikmati kondisi yang lebih nyaman dari buruknya akibat kepadatan manusia. Pemberlakuan pajak progresif atau proporsional sesuai interval penghasilan perlu dicoba agar terkumpul alokasi dana untuk membayar asuransi pendidikan, kesehatan dan kepemilikan perumahan bagi anak bangsa. Kota-kota besar di Indonesia perlu dirancang memiliki konsep pembangunan perumahan vertikal yang tahan gempa, sementara di bawah tanah disiapkan labirin atau gorong-gorong raksasa untuk mengendalikan banjir, instalasi kabel dan pipa sehingga tidak perlu ada gali lubang tutup lubang yang mengganggu aktifitas kota.

Semua orang dirancang berhak mendapatkan rasa aman, informasi, inspirasi peluang, peringatan dini, pendidikan, kesehatan dan pekerjaan yang layak buat keluarganya.

Festifal berkala dan pusat unggulan satu desa satu produk perlu diadakan oleh pusat dan daerah secara sinergi. Dalam suasana itu barang-barang atau produk yang bisa dibuat oleh setiap orang dan keluarga untuk bisa diperjual-belikan sehingga mampu memutar roda ekonomi dari tingkat terbawah yang berakar pada keluarga. Sehingga industri kecil, pemasok, sampai pengecer barang mulai berkembang untuk siap menjadi menengah dan besar. Setiap orang bisa mempunyai pekerjaan dan tidak ada yang menganggur karena akan berpeluang menciptakan barang-jasa yang akan diperjual-belikan dalam festival tematik berkala tersebut.

Visi memulihkan ekonomi lewat pemberdayaan keluarga, pendampingan dan pemodalan nelayan-petani-pekerja dan penciptaan hari-hari peringatan yang akan menarik orang untuk memproduksi dan berjual beli barang dan jasa perlu menjadi prioritas. Menciptakan Festival berkala, agro-wisata dan kemudahan transportasi antar wilayah, artinya sama dengan menciptakan pasar lokal bagi produk anak negeri, sehingga tidak mesti menjadi TKI atau pengojek. Mari kita merdekakan anak nusantara dari keterpurukan dan keterjajahan akibat kemiskinan. Miskin harta, miskin ilmu, juga miskin etika, disiplin dan etos kerja . Lewat peringatan kemerdekaan, mari kita siapkan kerja dan maju bersama menuju Indonesia Bangkit!. (Syafuan Rozi)

1 Comments:

Blogger presty larasati said...

wah wah... keren sekali pemikiran saudara. bangganya saya sebagai salah satu masyarakat bumi rafflesia melihat semangat teman2 di jakarta...

saya sekarang tinggal di solo, nyari gelar sarjana dari bidang ilmu rancang bangun. sedang memikirkan satu konsep untuk pasar seni bengkulu, sebagai bahan tugas akhir. rencananya TA ini akan saya bawa dan perjuangkan agar bisa diwujudkan oleh pemda kita.

mohon doa n bantuannya... kira2, pasar seni seperti apa yang sebaiknya kita miliki di bengkulu?
saya berencana membangun satu kawasan pusat seni n kerajinan. termasuk tempat ritual tabot kebanggan kita.. hhmm... ada yang punya ide?

klo ada yang bisa bantu, mohon kirim idenya ke blog saya, www.prestylarasati.wordpress.com
atau email saya, perez_ty@yahoo.com

terima kasih :)

11:23 PM  

Post a Comment

<< Home